Author : Intaaany
Tittle : Iam Not
Crazy!
Length : Drabble
Genre : Teenager,
friendship, supranatural.
Casts :
-
Xi Lu Han
-
Kim Hyun
Ri (OC)
Disclaimer : All of
this fanfic is belong to me. Luhan is belong to God, His family, SMEnt, and me.
A/N : hai, saya kembali
menulis FF dengan genre supranatural, entah kenapa saya suka dengan genre itu
hehe :3 Terimakasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca FF abal macam
ini ^_____^
Intaaany present!
Happy Reading~ ^^
•••
“Please
believe me! Iam not crazy, iam sure”
“Selamat datang
Dokter Luhan, semoga anda nyaman bekerja di rumah sakit ini, selamat bekerja”
ujar kepala rumah sakit ini kepadaku.
“Terimakasih, dok”
jawabku sambil tersenyum.
Ya, hari ini aku
dipindah tugaskan dari China ke Korea Selatan. Aku adalah seorang dokter yang
dianggap sudah profesional. Percayalah, aku tidak seprofesional yang mereka
katakan. Mungkin itu karena aku masih muda dan lebih sabar, mungkin. Aku pun
memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit ini. Hanya ingin mengenal
rumah sakit ini. Ya, begitulah.
Pasien-pasien di
sini terdiri dari segala usia. Mulai dari anak-anak, remaja, atau bahkan orang
dewasa sekali pun. Semuanya memakai pakaian yang sama, pakaian khas rumah sakit
berwarna biru kelam. Suara teriakan, tertawa, atau bahkan menangis sangat jelas
terdengar di sini. Tentu saja, ini adalah rumah sakit jiwa. Semua pasien di
sini adalah pasien yang dianggap mengalami gangguan kejiwaan.
Karena rasa ingin
tahu, aku pun pergi ke ruang dokumen. Hanya ingin mengenal nama-nama pasien
yang ada di sini selama aku ditugaskan di sini. Karena itu akan mempermudah
akses praktekku. Semacam mempermudah pendekatan pada pasien. Sedikit aneh
ketika melihat ada satu nama yang di beri stabile berwarna merah. Kim Hyun Ri.
Seorang…….. Gadis? Dia seusia denganku. Kenapa dari ratusan pasien di sini
hanya namanya yang di beri stabilo? Rasa keingin tahuanku muncul. Aku pun
berniat untuk mengunjungi kamar 204 tempat pasien bernama Kim Hyun Ri dirawat.
Betapa terkejutnya
aku ketika mendapati pasien ini dipasung, kedua tangannya diikat, dan kamar
yang jauh dari kata layak. Serangga seperti kecoa, tikus, dan yang lainnya ikut
menjadi penghuni kamar ini. Aneh.
“Halo, Hyunri-ssi”
ucapku.
Hening.
Tak ada jawaban.
Dia hanya diam, dan
terus menundukkan kepalanya.
Suara isakkan
terdengar, apakah…….. Ia menangis?
“Pergilah” ucapnya
di sela-sela isakannya.
“Kenapa aku harus
pergi?” tanyaku.
“Kau tidak lihat
kalau aku dipasung? Bahkan tanganku diikat, itu tandanya aku berbahaya,
Luhan-ssi” tunggu dulu. Dia tahu namaku? Dari mana?
“Kau tahu namaku?”
tanyaku tidak mengerti.
Belum sempat ia
menjawab. Seorang office boy datang
menghampiriku. Ia menarik lenganku sedikit kasar. Aku hanya menatapnya dengan
tatapan “ada apa?”
“Seharusnya kau tidak
perlu mendekati gadis itu, dok” ujarnya. Aku tidak perlu mendekati Hyunri?
Mengapa? Bukankah dia salah satu pasien di sini juga? “Kau tahu mengapa namanya
diberi stabilo? Itu karena menurut kedua orangtuanya, dia berbahaya, dan itu
juga sebabnya mengapa ia dipasung dan diikat”.
Aku mengangguk
tanda mengerti. Jadi, itukah alasannya? Office
boy itu pun berlalu meninggalkanku yang masih terpaku di depan kamar
Hyunri. Aku masih penasaran, dari mana Hyunri tahu bahwa namaku adalah Luhan?
Padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya, iyakan?
**
Hari ini, aku
berniat untuk mengunjungi pasien bernama Hyunri lagi. Bagaimanapun juga, aku
masih penasaran pada sosoknya. Dari mana ia mengetahui namaku?
“Selamat pagi
Hyunri” ujarku sambil tersenyum. Ia hanya menengadahkan kepalanya sesaat,
kemudian menunduk kembali. Ia kembali terisak. Sedikit sakit melihatnya seperti
itu. Aku yakin ia merasa tersiksa. Bagaimana bisa pihak rumah sakit ini
membiarkannya dipasung dan diikat seperti itu?
“Ada apa lagi?”
tanyanya tanpa merubah posisinya sedikit pun.
“Aku tahu kau tidak
gila, iya kan?” tanyaku.
“Tebakan beruntung,
Dokter Luhan, mereka hanya menganggapku gila, padahal kenyataannya aku masih
waras, aku masih bisa berfikir jernih seperti kalian, dan bahkan aku tahu cara
menghitung secara matematika” jelasnya. Aku menatapnya tidak percaya. Dugaanku
benar, kan?
“Lalu bagaimana kau
bisa berada di sini?” tanyaku lagi.
Ia menghela
nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mengangkat kepalanya. “Orangtuaku
beranggapan bahwa aku gila, padahal yang sebenarnya aku normal, aku masih
berada ditahap orang waras, tes psikotes pun mengatakan bahwa aku masih waras,
namun, aku memiliki kelebihan, aku dapat berbicara dengan benda kasat mata, kau
tahu angin? Aku dapat berbicara dengan angin, dan angin itulah yang kemarin
membisikkanku namamu, Luhan, aku tak memiliki teman, karena mereka juga
menganggapku bahwa aku adalah orang gila yang suka berbicara sendiri, bahkan
terkadang aku bisa tertawa sendiri, atau pun menangis sendiri, itu disebabkan
oleh angin, sahabatku” jelasnya panjang lebar.
Sedikit terssentuh
mendengar perkataannya. Bagaimana bisa kedua orangtuanya tidak ingin
mendengarkan penjelasan anaknya terlebih dahulu?
“Aku memercayaimu,
Hyunri” ucapku. Aku pun mengelus-elus surai hitam miliknya. “Aku akan
melepaskan pasung dan ikatanmu”.
Aku pun melepaskan
pasung dan ikatannya. Kemudian menggandeng tangannya keluar dari kamar atau
lebih tepatnya neraka kecil baginya.
Sedikit banyak ia berbicara padaku. Ia menceritakan banyak hal padaku. Ia
merupakan sosok yang ceria. Ia hanya tertekan.
••
Sudah dua bulan aku menjadi dokter jiwa di
Korea Selatan, dan sudah dua bulan pula Hyunri kembali ke dunia nyata. Aku dan
dia menjadi dekat. Entah kenapa aku hanya ingin melindunginya. Karena melihatnya
tersakiti, mengiris hatiku juga. Aku paham dengan sikapnya yang terkadang
berbicara sendiri, karena itu pasti sahabatnya. Angin.
Tidak semua yang
terlihat adalah yang baik
Karena terkadang,
sesuatu yang tidak terlihat bisa lebih baik
-END-






